Senin, 14 November 2011

RENCANA PELAKSANAAN PMBELAJARAN


RENCANA PELAKSANAAN PMBELAJARAN
(RPP)
Mata Pelajaran            : Matematika
Materi                          : Himpunan
Kelas/Semester            : VII/2
Alokasi Waktu            : 1 x 45 menit
Pertemuan ke              : Satu
A.      Standar Kompetensi
Siswa dapat memahami dan dapat melakukan operasi dan menggunakan bentuk dijabar, persamaan dan pertidaksamaan linear satu variable, dan himpunan dalam memecahkan masalah.

B.       Kompetensi Dasar
Ø  Mengenal himpunan
Ø  Menentukan himpunan dengan diagram Venn

C.      Indikator
Ø  Mengenal pengertian himpunan
Ø  Menyatakan masalah sehari-hari dalam bentuk himpunan dan mendata anggotanya
Ø  Menyebutkan anggota dan bukan anggota himpunan beserta notasinya
Ø  Menyelesikan masalah dengan himpunan
Ø  Mengenal dan dapat menggambarkan dengan menggunakan diagram Venn

D.      Tujuan Pembelajaran Program Pengayaan
Setelah melakukan kegiatan ini diharapkan siswa mampu:
Ø  Mengetahui pengertian himpunan
Ø  Mengetahui masalah sehari-hari dalam bentuk himpunan dan mendata anggotanya
Ø  Memahami dan mengerti yang termasuk anggota dan bukan anggota himpunan beserta notasinya
Ø  Dapat menyelesaikan masalah dengan menggunakan himpunan
Ø  Dapat menyatakan himpunan dengan menggunakan diagram Venn

E.       Materi Pembelajaran
1.1 Pengertian Himpunan
Definisi dari himpunan yaitu suatu kumpulan atas koleksi benda atau objek yang terdefinisi dengan jelas, sehingga dapat dibedakan apakah suatu benda atau objek tertentu termasuk dalam himpunan yang dimaksud atau tidak.
Objek yang termasuk dalam suatu himpunan dinamakan anggota himpunan. Kita dapat membedakan keadaan himpunan secar jelas karena:
1. Ada sejumlah benda (kongkret atau abstrak) yang membentuk himpunan
2. Ada objek yang merupakan anggota himpunan itu,dan
3. Ada anggota yang bukan merupakan suatu himpunan.
Ada beberapa cara untuk menyatakan himpunan:
    1. Menuliskan tiap anggota himpunan di antara 2 kurung kurawal.{}
    2. Menuliskan sifat-sifat pada semua anggota himpunan di antara 2 kurung kurawal.
Contoh 1: Diket A adalah himpunan yang menyatakan bola plastik berwarna, dapat dituliskan sebagai :
a. berdasarkan anggotanya: A={merah, hijau, kuning, biru, pink}
b. berdasarkan sifatnya: A={x|x adalah bola plastik berwarna}
Contoh 2: Diket B=himpunan bilangan bulat antara 1 dan 5
a. berdasarkan anggotanya : B={1,2,3,4,5}
b. Berdasarkan sifatnya: B={x|x Є B, 1 ≤ x ≤ 5 }
Himpunan berbeda dengan anggota himpunan {a} ≠ a, {{a}} ≠ {a}.
Jika suatu objek x merupakan anggota suatu himpunan A, maka x Є A, artinya ada pada himpunan A.
Untuk menuliskan jumlah elemen pada suatu himpunan ditulis dengan notasi n(A)=|A|. Misal B={x|x merupakan bilangan prima lebih kecil dari 20}, maka n(B)=8, karena B={2,3,5,7,11,13,17,19}
1.2 Diagram Venn
Istilah Venn diambil dari nama seorang ahli matematika berkebangsaan Inggris bernama John Venn, yang menggambarkan keadaan himpunan-himpunan dengan menggunakan diagram. Dalam diagram Venn suatu himpunan dinyatakan sebagai suatu lingkaran yang diberi nama himpunan tersebut. Jika perlu anggota-anggota himpunan tersebut dinyatakan sebagai titik-titik di dalamnya. dapat digambarkan sbb:

1.3 Himpunan Bagian
Jika A dan B adalah himpunan, dan A adalah himpunan bagian dari B, jika dan hanya jika setiap anggota A adalah merupakan anggota dari B.
1.4 Himpunan Semesta Dan Himpunan Kosong
Himpunan semesta adalah himpunan semua objek yang dibicarakan, diberi simbol S, sedangkan himpunan kosong adalah suatu himpunan yang tidak mempunyai anggota yang diberis simbol Ø atau {}.
Contoh 1 : Buat diagram venn jika
S = { 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8 }
A = { 1, 4, 6, 7 }
B = { 2, 4, 5, 8 }

F.       Pendekatan dan Metode pembelajaran
Ø  Pendekatan   : Kontekstual
Ø  Model           : Examples Non Examples (Contoh dapat dari kasus/gambar yang relevan         dengan kompetensi dasar)
Ø  Metode         : Diskusi, Tanya jawab


Tahap Kegiatan
Kegiatan
Alokasi
Waktu
Kegiatan Awal
1.  Mengkondisikan siswa
2.  Mengecek atau memeriksa kehadiran siswa (Absensi)
3. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai setelah pembelajaran.
4. Guru mengaitkan materi yang akan dipelajari dengan materi sebelumnya, yaitu dengan mengajukan beberapa pertanyaan tentang bangun datar persegi (sifat-sifat persegi dan menghitung besaran persegi).



8
Kegiatan Inti
1.  Eksplorasi : Sebagai langkah awal guru bertanya kepada siswa apa yang siswa ketahui tentang himpunan ?apa sebelumnya sudah mengenal dan mendengar kata himpunan?
     Guru memberikan contoh gambar dengan menggunakan media alat bantu dalam mengarahkan siswa yang disebut himpunan itu seperti apa.siswa diberikan kesempatan untuk mendeskripsikan gambar yang guru berikan, sebagai guru kita menampung semua pendapat dari siswa diberikan kesempatan untuk mendiskusikan kepada teman sebangku.

2.  Elaborasi : Sebagai pendidik kita berikan siswa kesempatan untuk menulis dan medefinisikan arti himpunan dengan melihat gambar dan diberikan contoh soal. Dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berfikir dan menyelesaikan masalah yang guru berikan dengan kelompok atau teman sebangkunya.Guru juga bisa dijadikan teman partner kerja dan dapat menghasilkan daya saing dalam belajar antara siswa.memberikan tugas dan, dengan diskusi untuk memunculkan gagasan baru.

3.  Guru memberikan penjelasan atau kesimpualan dari gagasan-gagasan siswa yang telah diutarakan.dan diberi penekanan  tentang pengertian himpunan. Guru juga sebagai narasumber dimana ada salah satu siswa yang bertanya tentang himpunan dan kurang paham akan materi bisa sebagai nara sumber dan bisa juga sebagia fasilitator dalam pproses pembelajaran. Dan juga mampu menjawab pertanyaan dari siswa yang kesulitan dalam memahami materi himpunan.guru memberikan penghargaan kepada siswa yang aktif dan berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Guru memotivasi siswa yang kurang aktif dalam belajar.


















72
Kegiatan Penutup
1.  Memberikan kesimpulan tentang materi himpunan
2.  Memberikan penilaian yang refleksi
3.  Melaksanakan tindak lanjut pembelajaran dengan pemberian tugas atau latihan yang harus dikerjakan diumah
4.  Menyampaikan rencana kegiatan pembelajaran pada pertemuan selanjutnya.


H.  Alat dan Sumber Pembelajaran
  1. Alat                       :  -  Spidol
-  Infokus
- Papan tulis
  1. Sumber Belajar      :  -  Buku Paket SMP Kelas VII Semester II, yudistira
                                             -  Buku referensi lain
- Lembar kegiatan siswa
I.  Penilaian Pertemuan I
  1. Teknik penilaian          :  Tugas Kelompok, Tanya jawab
  2. Bentuk Instrumen       :  Lembar soal uraian
  3. Contoh Instrumen       :  Lembar kegiatan siswa 1
Soal Uraian:
1. Tulislah setiap himpunan berikut berdasarkan sifatnya!
a. A =
b. G =
2. Gambarlah dengan diagram Venn untu himpunan-himpunan berikut ini
a. S =
b. S =

Kunci Jawaban :
1. a. Diketahui : A =                                             …. ( 2,5 )
        Ditanyakan : Tulislah setiap himpunan berikut berdasarkan sifatnya!                …. ( 2,5 )
        Jawaban : A= {x|x adalah hari-ahri dalm sepekan yang tidak dimulai dengan huruf S} (20)
Skor 25
2. a. Diketahui : S =                                  …. ( 2,5 )
        Ditanyakan : Gambarlah diagram venn nya!                                                      …. (2,5)
Text Box: S    .6
.4    .8
.1    
.10    .9Oval: A
.2           .5
.3           .7        Jawaban :




                                                                                                                                    …. (20)
Skor 25
     b. Diketahui : S =     …. (2,5)
         Ditanyakan : Gambarlah diagram venn nya!                                                     …. (2,5)
S              .1            .4            .6


.9                                            .10                                         
 
        Jawaban :
Oval: .2 B
.3 .8 .8Oval: A
.5   .7                                                           


…. (20)

Skor 25
                Cirebon,    Mei  2010
       Mengetahui,
Guru  Mata Pelajaran                                                                                                     Peneliti

Welly Sabatini                                                                                                         Laela sari M,Pd
NPM 109070103                                                                                      






Jumat, 04 November 2011

team rocket




Sejarah Matematika dan Perkembangannya


Sejarah Matematika dan Perkembangannya
Matematika (dari bahasa Yunani:μαθη ματικ ά -m athēm atiká) adalah studi besaran, struktur, ruang, dan perubahan. Para matematikawan mencari berbagai pola, merumuskan konjektur baru, dan membangun kebenaran melalui metode deduksi yang kaku dari aksioma-aksioma dan definisi-definisi yang bersesuaian. Matematika adalah suatu alat yang dapat digunakan untuk membantu memecahkan berbagai permasalahan (dalam pemerintahan, industri, sains dan dalam kehidupan sehari-hari yang lain nya). Dalam perjalanan sejarahnya, matematika berperan membangun peradaban manusia sepanjang masa.
Terdapat perselisihan tentang apakah objek-objek matematika seperti bilangan dan titik hadir secara alami, atau hanyalah buatan manusia. Seorang matematikawan Benjamin Peirce menyebut matematika sebagai "ilmu yang menggambarkan simpulan-simpulan yang penting". Di pihak lain, Albert Einstein menyatakan bahwa "sejauh hukum-hukum matematika merujuk kepada kenyataan, mereka tidaklah pasti; dan sejauh mereka pasti, mereka tidak merujuk kepada kenyataan." Melalui penggunaan penalaran logika dan abstraksi, matematika berkembang dari pencacahan, perhitungan, pengukuran, dan pengkajian sistematis terhadap bangun dan pergerakan benda-benda fisika. Matematika praktis telah menjadi kegiatan manusia sejak adanya rekaman tertulis. Argumentasi kaku pertama muncul di dalam Matematika Yunani, terutama di dalam karya Euklides,Elem en. Matematika selalu berkembang, misalnya di Cina pada tahun 300 SM, di India pada tahun 100 M, dan di Arab pada tahun 800 M, hingga zaman Renaisans, ketika temuan baru matematika berinteraksi dengan penemuan ilmiah baru yang mengarah pada peningkatan yang cepat di dalam laju penemuan matematika yang berlanjut hingga kini.
Kini, matematika digunakan di seluruh dunia sebagai alat penting di berbagai bidang, termasuk ilmu alam, teknik, kedokteran/medis, dan ilmu sosial seperti ekonomi, dan psikologi. Matematika terapan, cabang matematika yang melingkupi penerapan pengetahuan matematika ke bidang-bidang lain, mengilhami dan membuat penggunaan temuan-temuan matematika baru, dan kadang-kadang mengarah pada pengembangan disiplin-disiplin ilmu yang sepenuhnya baru, seperti statistika dan teori permainan. Para matematikawan juga bergulat di dalam matematika murni, atau matematika untuk perkembangan matematika itu sendiri, tanpa adanya penerapan di dalam pikiran, meskipun penerapan praktis yang menjadi latar munculnya matematika murni ternyata seringkali ditemukan terkemudian.
1.1 Filsafat Pendidikan Matematika
Filsafat pendidikan adalah pemikiran-pemikiran filsafat tentang pendidikan. Dapat mengonsentrasikan pada proses pendidikan, dapat juga pada ilmu pendidikan. Jika mengutamakan proses pendidikan, yang dipersoalkan adalah cita-cita, bentuk, metode, dan hasil dari proses pendidikan. Jika mengutamakan ilmu pendidikan maka yang menjadi pusat perhatian adalah konsep, ide, dan metode pengembangan dalam ilmu pendidikan. Filsafat pendidikan matematika termasuk filsafat yang membahas proses pendidikan dalam bidang studi matematika. Aliran-aliran yang berpengaruh dalam filsafat pendidikan antara filsafat analitik, progesivisme, eksistensialisme, rekonstruksionisme, dan konstruktivisme.
Pendidikan matematika adalah bidang studi yang mempelajari aspek-aspek sifat dasar dan sejarah matematika, psikologi belajar dan mengajar matematika, kurikulum matematika sekolah, baik pengembangan maupun penerapannya di kelas.
Filsafat konstruktivisme banyak mempengaruhi pendidikan matematika sejak tahun sembilan puluhan. Konstruktivisme berpandangan bahwa belajar adalah membentuk pengertian oleh si belajar. Jadi siswa harus aktif. Guru bertindak sebagai mediator dan fasilitator. Budaya yang paling menonjol dapat dikatakan sebagai ciri khas budaya suatu bangsa. Ciri khas bangsa Yunani kuno adalah ide-ide idealnya, bangsa Romawi dengan budaya politik, militer dan suka menaklukkan bangsa lain. Bangsa Mesir kuno dengan seni keindahan dan juga mistik. Tahun 600 – 1200 ciri khas budaya bangsa Eropa adalah teologis. Tahun 1200 – 1800 budaya bangsa Eropa mulai eksplorasi alam sebelum revolusi industri. Abad ke-19, dan 20 penciptaan mesin-mesin otomatis berbarengan dengan kemajuan dalam bidang sains dan matematika.
Bangsa-bangsa Babilonia, Mesir, Sumeria dapat dipandang sebagai matematika empiris. Nama ini berkaitan dengan perkembangan matematika yang selalu untuk memenuhi keperluan dalam perdagangan, pengukuran, survei, dan astronomi. Dengan kata lain matematika diangkat dari pengalaman manusia bergelut dengan masalah-masalah praktis dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun demikian matematika empiris ini telah mengantisipasi datangnya matematika non-empiris seperti telah digunakannya bilangan negatif, dan sistem bilangan alam atau asli yang menuju ketakhingga.
Kontribusi paling menonjol bangsa Yunani terhadap perkembangan matematika terletak pada dipilihnya metode deduktif dan kepercayaannya bahwa fenomena alam dapat disajikan dalam lambang-lambang bilangan. Dan ini terbukti sekarang telah ditemukan alat-alat elektronik digital.
Bangsa Eropa sendiri baru belakangan tertarik pada matematika. Selama 1000 tahun matematika berkembang di Asia kecil (Yunan, Arab). Tahun 400 – 120 perkembangan matematika dapat dikatakan mandek, hanya beberapa gelintir orang mengembangkan secara individual (tanpa ada komunikasi satu sama lain), di antara mereka adalah Boethius, Alcuino, dan Gerberet, dan yang paling akhir Leonardo Fibonacci.
1.2 Pusat perkembangan matematika berada di Eropa.
Matematika Kontemporer (1850 – Sekarang) Aritmetika memiliki peran ganda: sebagai alat bantu sains dan perdagangan, dan sebagai uji komparatif landasan dasar tempat sistem matematika itu dibangun. Hogben, Well, dan McKey dan lain-lain telah melukiskan peran aritmetika dengan indahnya.
Perkembangan kalkulasi yang paling spektakuler adalah diciptakannya “otak elektronik”, komputer. Komputer lebih banyak memerlukan matematika daripada aritmetika elementer. Penciptaan komputer memerlukan kolaborasi para pakar matematika, aritmetika, dan ahli teknik pakar mesin.
Pada abad 20 perkembangan aritmetika makin abstrak dan tergeneralisasi. Perkembangannya mengacu pada aljabar dan analisis guna lebih “mengeraskan” aritmetika. Sebaliknya yang terakhir ini disebut “arimetisasi”
Abstraksi dan generalisasi pada abad 20 telah diantisipasi oleh Lobachevsky dengan munculnya geometri non-euclidnya. Selanjutnya pakar-pakar lain seperti Peacock, Gregory, DeMorgan, memandang aljabar dan geometri sebagai “hipothetico-deductive” dengan cara Euclid.
Matematika yang telah berkembang selama dua ribu lima ratus tahun oleh generasi ke generasi, ternyata dapat diajarkan kepada anak-anak “hanya” dalam beberapa tahun di sekolah. Oleh karena itu, Prof Judd (psikolog) mengatakan bahwa aritmetika adalah kreasi manusia paling perfect (sempurna) dan alat untuk berkomunikasi sesama manusia. Dengan demikian matematika perlu dijaga dan dikembangkan untuk mengantarkan manusia menyongsong hari esok yang cerah.
Ø   Perkembangan Matematika
Perkembangan matematika dilihat dari produktivitas baik kuantitatif maupun kualitatif dari waktu ke waktu makin meningkat dan sangat cepat. Perbandingan ini dikaitkan dengan skala waktu. Perbandingan produktivitas terhadap skala waktu, secara kuantitatif dapat digambarkan mendekati secara eksponensial pertumbuhan biologis.
Ada dua macam pembagian mengikuti waktu atau periode perkembangan. Yang pertama, pembagian waktu ke dalam tiga periode, yakni, “dahulu”, “pertengahan”, dan “sekarang”. Pembagian ini berdasarkan pertumbuhan matematika sendiri dan daya tahan hidup sesuai zamannya. Yang kedua, pembagian menurut cara konvensional dalam tujuh skala waktu menurut penemuan naskah yang dapat dihimpun, yakni (1) Babilonia dan Mesir Kuno, (2) Kejayaan Yunani (600 SM – 300), (3) Masyarakat Timur dekat (sebagian sebelum dan sebagian lagi sesudah (2)), (4) Eropa dan masa Renaissance, (5) Abad ke-17, (6) Abad ke-18 dan 19, dan (7) Abad ke-20. Pembagian ini mengikuti perkembangan kebudayaan Eropa.
Setiap periode, baik yang membagi menjadi 3 atau pun 7, memiliki ciri khas yang umum. Pada periode “dahulu”, ciri khasnya adalah empiris, mendasarkan pada pengalaman (indera) hidup manusia. Periode “pertengahan” mulai dengan analisis (Descartes, Newton, Leibniz, Galileo), sedangkan pada periode “sekarang” ciri khasnya adalah metode abstraksi dan generalisasi. Ternyata perkembangan matematika dilihat dari kualitas dan kekuatannya jauh lebih penting daripada dilihat secara kuantitas. Ingatlah akan definisi matematika yang mengatakan “matematika adalah cara berpikir dan bernalar”, lihat Modul 1. Sedang kekuatannya, misalnya, lihatlah geometri Euclid dibanding dengan geometri non-euclid, yang terakhir ini mampu menyelesaikan masalah lebih rumit (geometri non-euclid digunakan dalam mengembangkan teori relativitas dalam ilmu fisika) Walaupun demikian kadang-kadang korelasi antara perkembangan matematika dan kebudayaan kadang-kadang korelasi itu negatif.
ü  Berpikir Matematis
Persyaratan Aksioma dalam Sistem Matematis. Sejak awal perkembangannya sampai kira-kira abad ke-16, matematika tidak pernah mengenal kreasi matematika baru, sehingga orang mengatakan matematika adalah statis. Tetapi pendapat ini menjadi tidak benar sebab setelah abad ke-17, Descartes menemukan geometri analitik. Lebih-lebih setelah Bolyai dan Lobachevsky menemukan geometri non-euclid. Ini memicu tumbuhnya metode postulatsional atau metode aksiomatis pada abad ke-19. Pemunculan metode ini dipandang sebagai fajar menyingsing perkembangan matematika. Mulai saat itu, hampir setiap hari dikreasi matematika baru.
ü  Peran Logika dalam Sistem Matematika
Pythagoras mengusulkan adanya konsep untuk ‘bukti’ yang baku dan jelas dan disetujui oleh semua pakar. Aristoteles menyusun hukum dasar logika yang pertama kali. Ternyata hukum dasar itu identik dengan perangkat aksioma. Term tak didefinisikan dalam aksioma disebut kata primitif dalam logika. Dengan sistem aksioma dalam geometri Euclid, diubah oleh Lobachevsky dan Bolyai, maka kemudian ada maksud mengembangkan logika modern. Russell dan Whitehead telah berhasil menyusun membangun hukum dasar logika modern. Dalam sistemnya mereka memasukkan kata-kata atau, dan, negasi dan sebagainya. Hukum dasar Aristoteles dipandang hanya berlaku untuk semesta tertentu. Hukum dasar logika modern bersifat semesta. Artinya semua matematika dan sains dapat menggunakan hukum dasar logika modern guna menarik kesimpulan, dan tidak tergantung jenis logika yang digunakan. Ternyata baik aksioma matematika maupun hukum dasar logika adalah variabel. Lucasiewics berjaya menyusun sistem logika modern. Keuntungannya tidak perlu lagi menggunakan tabel-tabel matriks nilai kebenaran untuk setiap kemungkinan nilai kebenaran komponennya. Dan dapat langsung untuk sebarang nilai kebenaran komponen-komponennya.
ü  Sistem Aksioma Peano sebagai Basis Matematika
Aksioma Peano adalah sebuah contoh sistem aritmetika postulatsional. Aksioma Peano sangat mengagumkan. Perangkat aksioma ini terdiri dari 5 postulat dengan definisi rekursif (maju atau mundur) bilangan-bilangan alam, misalnya 4 = 3´ = (2´ )´ = ((1´ )´ )´ = (((0´ )´ )´ )´ ,. Atau 0´ = 1, 1´ = 2, 2´ = 3, dst. P4 membatasi bahwa setelah bilangan 0 tidak dapat mundur lagi. Dengan menambahkan definisi jumlah D1(a), (b) dan definisi kali D2(a) dan (b), maka dapat dibuktikan sifat-sifat operasi assosiatif, komutatif, dan distributif untuk kedua operasi yang didefinisikan.Dengan mendefinisikan bilangan positif, negatif, rasional, dan kompleks dengan cara-cara yang sesuai hanya dengan mengambil term-term primitif yang termuat dalam aksioma, semua sistem bilangan memenuhi aksioma. Demikian pula fungsi aljabar seperti fungsi kontinu, limit, kalkulus dsb. Dengan hasil ini maka dikatakan bahwa aksioma Peano merupakan basis matematika.
ü  Matematika sebagai Metode dan Seni
Walaupun tidak sempurna, matematika aksiomatis dibuka oleh geometri Euclid pada abad ketiga. Peano membuat aksioma yang mula-mulanya untuk bilangan alam. Aksioma ini berbuah lebat. Hilbert menyempurnakan aksioma Euclid. Perangkat aksioma harus memenuhi syarat tertentu antara lain: (a) terdiri dari kata-kata yang kosong dari arti (primitif), (ii) banyaknya primitif harus minimal, (iii) perangkat primitif harus konsisten, dan independen. Teorema-teorema dideduksi secara logis dengan menggunakan logika formal. Dengan metode langkah-langkah seperti itu maka muncul matematika baru yang disebut sistem matematika. Karena itu geometri dapat dipandang sebagai sebuah metode (metode membangun karya matematis).
Dalam geometri murni, term-term primitif kosong dari arti. Teorema-teorema dideduksi secara logis menggunakan logika formal. Teorema-teorema pun kosong dari arti. Kebenaran teorema-teorema ini adalah kondisional.
Dalam geometri fisik atau orang awam menyebutnya geometri empiris, perangkat aksioma diambil dari geometri murni dengan cara memberi makna fisik untuk term-term primitif. Teorema-teorema kemudian juga mengandung makna fisik. Sekarang perangkat aksioma dan teorema-teorema dalam geometri fisik bernilai benar.
Untuk pengembangan teorema-teorema matematikawan memiliki daya imajinasi, abstraksi, inspirasi, dan kreativitas, yang pada umumnya juga berdasarkan pengalaman.